“Bu, pesanannya bisa selesai besok, kan?”
Pesan dari pelanggan itu masuk ketika aku sedang membereskan beberapa potongan kain di atas meja. Aku membaca pesannya sekali lagi. Besok. Berarti waktuku tinggal satu hari untuk menyelesaikan pesanan jahitan yang sebenarnya masih lumayan banyak.
“Bisa, Insyaallah,” balasku akhirnya.
Setelah mengirim pesan itu, aku langsung melihat tumpukan kain di samping mesin jahit. Sepertinya besok bakal menjadi hari yang cukup panjang.
Aku memang menerima beberapa pesanan jahitan dari rumah. Biasanya pelanggan datang membawa kain sendiri, lalu meminta dibuatkan sesuai model yang mereka inginkan. Ada yang pesan baju untuk acara keluarga, ada yang untuk menghadiri undangan, dan sesekali ada juga yang meminta dibuatkan pakaian untuk anak-anak.
Aku suka pekerjaan ini. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat kain yang awalnya hanya berupa lembaran biasa berubah menjadi pakaian yang cantik setelah selesai dijahit. Namun, pekerjaan menjahit juga membutuhkan ketelitian. Salah mengukur sedikit saja, hasilnya bisa berbeda. Salah memotong kain, tentu tidak bisa diulang.
Belum lagi ketika harus memasukkan benang ke jarum, menjahit bagian-bagian kecil, memasang kancing, hingga memastikan tidak ada jahitan yang terlewat. Karena itulah, ketika pesanan sedang banyak, nggak cuma pikiran dan tangan yang harus fokus, mataku juga ikut bekerja keras.
Berjam-jam di Depan Mesin Jahit
Sejak pagi aku sudah mulai mengerjakan pesanan. Begitu kain pertama selesai dipotong langsung mulai kujahit. Setelah itu berganti ke kain berikutnya. Saking asyiknya bekerja, tak sadar waktu sudah semakin siang.
Sesekali memang aku berhenti untuk minum atau makan dan sholat, tetapi setelah itu kembali duduk di depan mesin jahit. Mataku terus saja memperhatikan garis pola, ujung kain, dan jahitan yang harus dibuat lurus.
Sampai sore harinya, ketika sedang memasang benang pada jarum, aku mulai merasa ada yang berbeda. Mataku rasanya seperti ada yang mengganjal, kucoba untuk berkedip dan beristirahat sejenak.
“Kayaknya mataku mulai capek,” gumamku.
Aku berhenti sebentar, beranjak ke dapur dan minum segelas air putih. Lalu kembali ke depan mesin jahit untuk melanjutkan pekerjaan. Aku harus segera menyelesaikan jahitan ini supaya ketika pelanggan yang memesan datang, semuanya sudah siap di bawa pulang.
Tidak lama kemudian, rasa sepet yang tak mengenakkan itu muncul lagi. Aku mengedipkan mata berkali-kali sambil mencoba tetap fokus. Namun, semakin lama aku merasa konsentrasiku mulai terganggu. Garis jahitan yang biasanya bisa kulihat dengan jelas mulai buram.
Pesanan Harus Selesai, Tapi Mata Juga Perlu Istirahat
Aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16:30. Padahal masih ada bagian lengan dan beberapa detail kecil yang belum selesai. Kalau aku berhenti terlalu lama, pekerjaan bisa semakin molor. Tapi memaksakan mata juga bukan pilihan yang baik.
Aku akhirnya berdiri dari kursi dan berjalan ke dapur mengambil air minum lagi. Setelah itu aku menuju meja rias di kamar, membuka lacinya dan mengambil obat tetes mata imut dengan tutup berwarna biru muda, #InstoDryEyes.
Aku ingat beberapa hari yang lalu, ketika membeli beberapa vitamin yang biasa kukonsumsi, tak sengaja kulihat Insto Dry Eyes di rak pajangan. Kuambil saja tanpa banyak berpikir. Siapa tahu nanti butuh, iyakan? Dan benar saja, kali ini aku butuh obat tetes mata mungil tersebut untuk mengatasi rasa tak enak yang muncul di mata.
Tanpa menunggu lagi, segera kuteteskan Insto Dry Eyes dan mengedipkan mataku beberapa kali agar tetesannya menyebar ke seluruh area dalam mata. Setelah itu aku berbaring sebentar di kasur dan sengaja tidak langsung kembali menjahit. Beberapa menit kugunakan untuk memberikan waktu bagi mataku beristirahat.
Setelah terasa lebih nyaman, barulah aku kembali menuju meja jahit dan kali ini aku mencoba bekerja dengan lebih teratur tanpa terburu-buru.
Beberapa bagian yang harus selesai tadi akhirnya kelar juga. Kemudian kuputuskan untuk menyudahi aktivitas menjahitku hari ini. Aku tidak lagi memaksakan diri terus-menerus menatap kain tanpa jeda.
“Yang penting, baju yang harus diambil hari ini sudah selesai tepat waktu. Sisanya besok saja kulanjutkan.” Kataku berbicara sendiri.
Ketika Mata Tidak Nyaman, Pekerjaan Ikut Terganggu
Dari pengalaman itu aku dapat pelajaran berharga bahwa selama ini aku sering menganggap rasa tak nyaman seperti sepet atau kering pada mata sebagai gangguan kecil. Padahal, untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian seperti yang kulakukan, kondisi mata yang tidak nyaman sangat mengganggu. Bayangkan saja, pas lagi membuat jahitan lurus, tiba-tiba mata terasa lelah. Atau ketika harus memasukkan benang ke lubang jarum yang kecil, mata tak bisa fokus bahkan mungkin buram. Kalau kejadiannya begitu terus, bisa-bisa bukan cuma mata yang lelah, kesabaranku juga ikut habis.
Karena itulah, aku mulai lebih memperhatikan kondisi mata. Aku juga memastikan pencahayaan di ruang jahit cukup baik. Selain itu kuusahkan pula memberikan jeda kalau sudah terlalu lama fokus pada pekerjaan.
Akhirnya Pesanan Selesai Tepat Waktu
Aku melakukan pemeriksaan terakhir. Memastikan jahitannya rapi, tidak ada benang yang tersisa, dan semua bagian sudah sesuai ukuran.
Alhamdulillah akhirnya selesai juga dan aku tersenyum sendiri. Besok pagi tinggal dirapikan dan diserahkan kepada pelanggan. Aku kemudian memotret hasil jahitan untuk dikirim kepada pelanggan.
“Alhamdulillah, bajunya sudah selesai ya Bu,” kukirim pesan tersebut kepada pelanggan.
Rasanya lega karena berhasil menyelesaikan pesanan tepat waktu. Aku juga berhasil mengatasi masalah mata yang tadinya kuanggap sepele dan akhirnya bisa merasakan #BebasMataKering.
Ternyata, menjaga kenyamanan mata sama pentingnya dengan menyelesaikan pekerjaan. Selama ini kalau sedang mengejar deadline, aku sering berpikir bahwa yang penting pekerjaan selesai. Mata lelah, perih atau sepet nggak papalah, begitu pikirku. Padahal, kalau rasa tidak nyaman itu semakin mengganggu, pekerjaan yang seharusnya selesai dengan cepat justru bisa menjadi lebih lama.
Jangan Sepelekan Sinyal Kecil dari Mata
Belajar dari pengalaman tadi, akhirnya kuputuskan untuk membuat aturan sendiri. Kalau sudah terlalu lama duduk di depan mesin jahit, aku akan berhenti sebentar. Mata kuistirahatkan, minum air putih, dan melakukan aktivitas lain sejenak sebelum kembali bekerja.
Aku juga tidak lagi sembarangan mengucek mata ketika terasa sepet atau tidak nyaman. Jika mata terasa kering, aku sudah menyiapkan Insto Dry Eyes dan menggunakannya sesuai kebutuhan. Pokoknya, #MataSePeLejanganSepelein, dengan menjaga mata tetap nyaman, aku bisa bekerja dengan lebih baik dan lebih teliti. Pekerjaan pun bisa selesai dengan lebih tenang. Pelanggan senang, aku pun ikut senang.

Posting Komentar